Seorang lelaki ketahuan telah berselingkuh , saat pasangannya mengecek ponsel kekasihnya .
Dengan nada marah , si wanita melabrak si lelaki . Berbagai umpatan ,
makian bahkan sebuah tamparan mendarat di pipi si lelaki .
Si wanita merasa dibohongi dan dilukai ; merasa tidak terima atas perlakuan pasangannya .
Namun , dengan tenang , lelaki itu menjelaskan pada si wanita .
"kamu belum mendengar apa
yang terjadi sebenarnya . Aku memang berselingkuh . Tapi jika kamu
mengkoreksi diri , aku melakukannya karena kamu tidak peduli terhadap
waktu dan kehadiranku di sampingmu .
Saat aku butuh kamu , kamu malah acuh dan sibuk dengan kepentinganmu .
Saat aku ingin menyelesaikan masalah ini , kamu juga sulit ku temui .
Waktumu telah habis hanya untuk kepentingan dirimu saja ."
Sejenak lelaki itu diam .
"apakah kamu tahu kenapa aku hanya diam saat kamu luapkan amarahmu ?
Itu karena aku masih menghargai kamu sebagai pasanganku .
Sejahat-jahatnya aku , aku tidak lari dalam berbagai alasan yang tidak masuk akal untuk membenarkan diriku sendiri .
Pahamilah itu ."
->>
seringkali , orang hanya melihat apa yang dirasakannya SAAT ITU , tanpa mau mendengar dahulu penjelasan dari lawan bicara ;
tanpa mau mengambil sejenak waktu untuk menenangkan diri ataupun instropeksi diri ;
ataupun sejenak mengontrol gejolak amarahnya .
Tidak ada pembenaran atas EMOSI yang bergejolak , meskipun sebenarnya kita di pihak yang benar ;
karena siapapun yang bersalah tetap punya hak untuk membela diri .
Jika emosi dijadikan alasan kuat untuk menghakimi , maka bersiaplah untuk MENYESAL .
>>
baik wanita ataupun lelaki , adalah sama ; punya hati dan logika .
Tapi seringnya , mereka salah menempatkan hati atau logikanya di sikon dan waktu yang tepat .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar